0
Perbankan Syariah
Posted by Unknown
on
05.12
Bank Syariah
Secara konsep, bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan
prinsip-prinsip syariah islam, yaitu mengedepankan keadilan, kemitraan,
keterbukaan dan universalitas bagi seluruh kalangan (Yusak Laksmana,
2009).
Menurut Muhammad (2005 ), bank syariah adalah
bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank Islam
atau biasa disebut dengan Bank tanpa bunga, adalah lembaga
keuangan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan
berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Dengan kata lain, bank
islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan
dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang
yang pengoperasiannya disesuaikan dengan syariat Islam.
Bank syariah
adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip
Islam, yaitu aturan perjanjian (akad) antar bank dengan pihak lain
(nasabah) berdasarkan hukum Islam. Sehingga perbedaan antara bank Islam (syariah) dengan bank konvensional
terletak pada prinsip dasar operasinya yang tidak menggunakan bunga,
akan tetapi menggunakan prinsip bagi hasil, jual beli dan prinsip lain
yang sesuai dengan syariat Islam, karena bunga diyakini mengandung unsur
riba yang diharamkan (dilarang) oleh Agama Islam (Heithzal Rivai, dkk,
2007).
Dana Pihak Ketiga Bank Syariah
Dana Pihak Ketiga adalah dana yang diperoleh dari masyarakat, dalam arti
masyarakat sebagai individu, perusahaan, pemerintah, rumah tangga,
koperasi, yayasan, dan lain-lain baik dalam mata uang rupiah maupun
dalam valuta asing. Pada sebagian besar atau setiap bank,
dana masyarakat ini umumnya merupakan dana terbesar yang dimiliki. Hal
ini sesuai dengan fungsi bank sebagai penghimpun dana dari masyarakat
(Heithzal Rivai, dkk, 2007).
Dalam pandangan syariah uang bukanlah suatu komoditi melainkan hanya
sebagai alat untuk mencapai pertambahan nilai ekonomis (economic added
value). Hal ini bertentangan dengan perbankan berbasis bunga di mana
“uang mengembangbiakan uang”, tidak peduli apakah uang itu dipakai dalam
kegiatan produktif atau tidak. Untuk menghasilkan keuntungan, uang
harus dikaitkan dengan kegiatan ekonomi dasar (primary economic
activities) baik secara langsung maupun melalui transaksi perdagangan
ataupun secara tidak langsung melalui penyertaan modal guna melakukan
salah satu atau seluruh kegiatan usaha tersebut.
Berdasarkan prinsip tersebut Bank syariah dapat menarik Dana Pihak
Ketiga (DPK) atau masyarakat dalam bentuk (Zainul Arifin, 2006):
- Titipan (wadiah) simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan atau keuntungan. Menurut Sri Nurhayati dan Wasilah (2008), wadiah adalah akad penitipan dari pihak yang mempunyai uang/barang kepada pihak yang menerima titipan dengan catatan kapanpun titipan diambil pihak penerima titipan wajib menyerahkan kembali uang/barang titipan tersebut dan yang dititipi menjadi penjamin pengembalian barang titipan.
- Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed account untuk investasi umum (general investment account/ mudharabah mutlaqah) di mana bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dengan porofolio yang didanai dengan modal tersebut.
- Investasi khusus (special investment account/mudharabah muqayyadah) di mana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk memperoleh fee. Jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil resiko atas investasi.
Pembiayaan Bank Syariah
Pemberian kredit pada bank konvensional
dalam meminjamkan uang kepada yang membutuhkan dan mengambil bagian
keuntungan berupa bunga dan provisi dengan cara membungakan uang yang
dipinjamkan tersebut.
Prinsip syariah menandakan transaksi semacam ini dan mengubahnya menjadi
pembiayaan. Bank tidak meminjamkan sejumlah uang pada nasabah, tetapi
membiayai proyek keperluan nasabah. Dalam hal ini bank berfungsi sebagai
intermediasi uang tanpa meminjamkan uang dan membungakan uang tersebut
sebagai gantinya, pembiayaan usaha nasabah tersebut dapat dilakukan
dengan cara membelikan barang yang dibutuhkan nasabah. Lalu bank menjual
kembali kepada nasabah atau dapat pula dengan cara bank
mengikutsertakan modal dalam usaha nasabah (Heithzal Rivai, dkk, 2007).
Dalam pembiayaan, bank syariah akan membiayai kebutuhan nasabah. Apabila nasabah menginginkan pembelian rumah misalnya, maka bank
akan membiayaai pembelian rumah tersebut. Antara bank dan nasabah akan
dilakukan transaksi dengan akad jual-beli di mana bank bertindak sebagai
penjual dan nasabah menjadi pembeli yang akan membayar secara angsuran
(Yusak Laksmana, 2009 )
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (Pasal 1)
disebutkan bahwa, “Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan
tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi
hasil”.
“Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam
antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan
kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai syariah,
antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil
(mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal
(musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh
keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan
prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya
pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak
bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina)” (Pratin dan Akhyar Adnan,
2005).
Pembiayaan atau financing menurut Muhammad (2005), yaitu pendanaan yang
diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi
yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga.
Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk
mendukung investasi yang telah direncanakan.
Menurut Rachmadi Usman (2003), pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang
mewajibkan pihak lain yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau
tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi
hasil.
Alokasi dana (pembiayaan) mempunyai beberapa tujuan (Muhammad, 2005) yaitu :
1. Mencapai tingkat profitabilitas yang cukup dan tingkat resiko yang rendah,
2. Mempertahankan kepercayaan masyarakat dengan menjaga agar posisi likuiditas tetap aman.

Posting Komentar